Cerpen “Sekarang Menjadi Sepi”

LINTAS NEWS – Di sudut Warkop Joss Mora Jalan Wahidin Pontiana yang dikelilingi dinding berwarna kuning menyala, Wak Dalek dan Wan Dolah duduk santai. Dua gelas kopi hitam pekat seperti hati mantan kekasih menghiasi meja mereka. Aroma kopi dan gorengan pisang bercampur dengan suara kipas angin tua yang berdecit di langit-langit.

“Eh, Wan, kau ingat nggak waktu Pilkada kemarin?” Wak memulai dengan nada seperti guru sejarah, lengkap dengan gaya mengangkat jari telunjuk.

“Ingatlah, Wak. Mana mungkin lupa. Berita di WhatsApp lebih cepat sampai dari kabar kematian orang. Setiap pagi buka grup keluarga, ada aja isu baru. Isu Hibah Masjid Mujahidin, korupsi itu, apa nama programnya? BP… apa tuh?” Wan menyipitkan mata, pura-pura lupa.

“BP2TD Mempawah!” Wak menjawab tegas, seperti peserta kuis yang yakin jawabannya benar.

“Nah, itu dia! Gila juga, ya. Orang-orang itu, tiap hari ngaduk-ngaduk isu kayak tukang es campur di Pasar Sudirman. Sampai aku pikir, ini orang benar-benar peduli atau cuma mau jadi viral?” Wan tertawa kecil, sambil mengaduk kopinya.

“Viral itu modal sekarang, Wan! Kau tengoklah, sebelum Pilkada, semua sibuk. Ada demo mahasiswa tuntuk pemimpin bersih. LSM entah dari mana tiba-tiba nongol bawa spanduk besar. Polda didesak sana-sini. Tapi habis Pilkada? Hening, Wan! Sunyi senyap. Semua isu lenyap seperti jin kena bacaan ayat kursi.” Wak menghela napas panjang, seakan sedang mengenang drama sinetron favoritnya.
“Betul, Wak. Aku sampai pikir mereka itu bukan orang biasa, tapi pesulap. Kalau nggak hilangin isu, hilangin moral!” Wan tertawa lepas kali ini, tapi Wak hanya menggeleng pelan.

“Kau tahu apa yang lebih ajaib?” Wak melanjutkan sambil mencondongkan tubuhnya. “Orang-orang yang dulu rajin share berita panas itu sekarang entah ke mana. Yang waktu itu sibuk mempersoalkan kandidat yang rajin salat subuh ke masjid, sekarang malah jadi admin grup jualan tanah kavling dan mobil bekas.”

Wan Dolah terbahak, sampai hampir tersedak kopinya. “Kavling tanah, Wak? Astaga! Itulah memang bisnis em-eman, kadang sampai triliunan hanya modal kopi pancong.”

“Name gak budak-budak. Pagi ngopi di Merapi, siang dikit pindah ke Jalan Siam. Sorenye, pindah ke Jalan Hijaz. Budak-budak pendekar sekarang ini wak,” ujar Wan Dolah yang minta tampah kopi pancong.

“Tapi kita ini, Wan, sebenarnya pahlawan tak terlihat.” Wak menepuk dadanya, penuh rasa bangga.

“Oh, pahlawan? Apa pula jasa kita, Wak?” Wan Dolah mengangkat alis, pura-pura tak paham.
“Jasa kita ini menghabiskan kopi warkop sambil membahas betapa absurdnya dunia politik! Kita ini saksinya, Wan. Dan tahu nggak, kenapa kita tetap santai? Karena kita tahu, politik itu kayak kopi pahit. Mau kau aduk pakai gula sebanyak apapun, pahitnya tetap ada.” Wak Dalek menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi puas.

Wan Dolah mengangguk setuju, lalu mengangkat gelasnya. “Untuk politik kopi pahit, Wak. Semoga yang minum sadar, kalau gula janji itu nggak bikin sehat.” Mereka bersulang, bukan dengan gelas anggur, tapi gelas kopi murahan yang penuh makna.

Di luar sana, suara kendaraan di Jalan Wahidin tak berhenti. Dunia terus berjalan, sama seperti mereka. Dua sahabat tua, duduk di warkop, mengingat bahwa di balik segala drama, hidup selalu kembali pada kesederhanaan. Kopi hitam, pahit-pahit nikmat, tetap jadi pelengkap obrolan dua sahabat pensiunan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar