Nestapa Pekerja Lokal di Balik Megahnya Smelter PT WHW AR Kalbar

Gambar Ilustrasi AI

LINTAS NEWS – PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW AR) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi Smelter Grade Alumina (SGA). Berdasarkan penelusuran informasi dari media elektronik dan online, Presiden Direktur PT WHW AR bernama Zhou Wei.

Perusahaan ini memiliki sejumlah fasilitas penunjang pabrik, berupa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), terminal khusus kegiatan bongkar muat berstandar Internasional, dan komplek hunian karyawan berkapasitas ribuan orang yang berlokasi di Dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Namun, dalam Hubungan Industrial,kKeberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina bukan hanya membawa berkah, melainkan menimbulkan masalah baru yang berdampak pada konflik horizontal dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau lokal.

Relasi Sosial Tenaga Kerja Asing dan Tenaga Kerja Indonesia Di PT WHW AR

Struktur dominasi dari TKA asal Tiongkok yang biasa di panggil oleh orang Lokal Ketapang sebagai “Orang Beijing” ini, didalam PT WHW AR juga membentuk relasi sosial antara TKA Beijing dengan Pekerja Lokal menjadi tidak sehat. Berbagai bentuk perilaku pelecehan, tindakan kasar, ancaman, pemukulan, dan tindakan tidak pantas, marak terjadi dalam lingkungan kerja.

Dominasi asing ini, memicu keprihatinan warga lokal yang merasa hanya menjadi penonton di tanah sendiri. “Orang lokal seperti hanya jadi kuli, sementara TKA jadi bos,” keluh seorang warga setempat.
Ditambahkannya, akibat dominasi TKA tersebut, sehingga peluang warga lokal semakin sedikit untuk menempati posisi-posisi tertentu.

Di balik megahnya pabrik pengolahan Bauksit tersebut, masyarakat local, khususnya para karyawan lokal (TKI) merasa kian terpinggirkan. Berdasarkan data hingga akhir 2025, tercatat sekitar 240 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal negeri Tiongkok ini menduduki berbagai posisi strategis di perusahaan tersebut, termasuk di dalamnya keputusan mengenai ketenagakerjaan Indonesia juga diduduki oleh TKA Cina.

Semangat perlawanan dan perjuangan oleh sejumlah TKI (Lokal) ini, kemudian dilakukan dalam bentuk aksi unjuk rasa di Kantor DPRD dan Kantor Bupati Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada, Selasa (28/10/2025). Aksi protes dan unjuk rasa ini bermula sejak peristiwa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak oleh Perusahaan.

Dalam sebuah percakapan bersama karyawan lokal PT WHW AR yang berinisial (KN), dikatakan bahwa Para TKA Beijing itu memang sudah kelewat batas, mereka suka mengintimidasi Pekerja lokal kita. Dengan suara dan nada tersendat, sesekali menghela nafas dia mengatakan, sambil mata nya melihat keatas lalu mencoba mengingat kejadian saat orang-orang Beijing itu melakukan pengepungan terhadap pekerja local. Kemudian, melakukan pengeroyokan dan hal ini sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan perusahaan.

Selain Keputusan sepihak Perusahaan berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan sistem Upah Kerja yang tidak adil, relasi sosial dalam hubungan pekerjaan antara Tenaga Kerja Asing dan Tenaga Kerja Indonesia (terlebih Tenaga Kerja Lokal) juga menjadi persoalan serius yang di bicarakan.
Berdasarkan informasi yang beredar, karyawan PT WHW AR juga mulai banyak yang mengundurkan diri dengan kesadaran sendiri, ketika mereka melihat dan merasakan lingkungan kerja yang tidak nyaman dan tidak manusiawi, bahkan sudah melakukan tindakan Pendzholiman.

Di ruang yang berbeda, informasi yang beredar dari beberapa karyawan yang telah mengundurkan diri pada tahun 2026 ini, dan mantan karyawan PT WHW AR yang berinisial (TAM) itu menjelaskan, bahwa perlakuan tidak manusiawi dan kurang ajar kerap kali dilakukan para “Orang Beijing” itu terhadap pekerja lokal dengan cara yang sadis. Kalau sudah marah, mereka bisa melempar sekop ke Pekerja local. Kita seperti bukan manusia, mereka bisa seenaknya memperlakukan kita. Saya juga tidak menyangka tindakan mereka seperti itu terhadap kita, sudah diperlakukan seperti Binatang, padahal ini tanah kita sendiri, benar-benar Zholim mereka kepada kita.

Terkadang dalam keseharian bekerja, “para Beijing” itu juga, kalau menunjuk pekerja lokal kita tidak menggunakan tangan, tapi menunjuk dengan menggunakan Kaki dan sang Narasumber itu pun coba mempraktekkan cara menunjuk orang itu dengan menunjuk memakai Kaki.

Investasi Asing yang diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia, ternyata tidak semudah dalam pengucapan dan penulisannya. Dalam kenyataan, dalam praktiknya banyak hal yang menciptakan tragedi kemanusiaan. Apalagi ketika hukum dan aturan tidak dijalankan oleh para penegaknya, Derita menjadi sebuah kebiasaan yang wajar, dan ketika derita penindasan itu tidak segera di tangani, akan menciptakan relasi retak antara Orang Beijing dan Orang local. Dan, keretakan itu bisa menjadi pemicu perselisihan yang lebih meluas. Tampaknya seluruh pihak dan pemangku kepentingan dari PT WHW AR ini harus sadar. Pemerintah Pusat, Provinsi kalimantan Barat, dan Kabupaten Ketapang harus turun tangan untuk menangani permasalahan ini sebelum nantinya malah membesar dan merugikan banyak Hal.