lintasnews, Jakarta – Nama pengusaha asal Luwuk, Ferry Yanto Hongkiriwang atau yang akrab disapa Ferry Boboho, mendadak menjadi sorotan tajam publik setelah dituding sebagai aktor utama di balik pecahnya konflik kelembagaan antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung. Sosok pemilik Cafe de’Clan Signature di kawasan Cipete, Jakarta Selatan ini, diduga kuat menjalankan peran sebagai makelar kasus (markus) kakap yang menjembatani pengaturan sejumlah perkara korupsi besar di bawah lingkungan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Praktik lancung tersebut terendus oleh radar Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri, hingga memicu rangkaian operasi senyap dan penggeledahan besar-besaran di belasan lokasi strategis.
Ketegangan antar-lembaga penegak hukum ini sebenarnya mulai meruncing sejak Juli 2025, tepatnya saat seorang anggota Densus 88 Antiteror Polri, Briptu Faisal, melakukan pembuntutan terhadap Ferry di Hotel Borobudur, Jakarta. Menyadari dirinya tengah diintai, pengusaha otomotif dan kuliner tersebut langsung menghubungi relasi perwira tingginya di jajaran militer, yang berujung pada kedatangan personel Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI ke lokasi untuk menyita ponsel serta menginterogasi paksa sang anggota kepolisian. Insiden penyekapan di hotel tersebut sempat memicu gesekan bersenjata tidak langsung di lapangan, sebelum akhirnya kedua instansi melakukan negosiasi darurat untuk meredam situasi.
Penyelidikan Polri terhadap aktivitas siber dan komunikasi di ponsel Ferry Hongkiriwang akhirnya membongkar kotak pandora mengenai dugaan pemerasan massal terhadap para tersangka mega korupsi, mulai dari kasus tata niaga timah Bangka Belitung, korupsi BTS Komdigi, hingga penyimpangan pasokan batu bara PLN. Modus yang digunakan disinyalir melibatkan transaksi bernilai fantastis serta pengalihan aset ilegal, yang menyeret nama-nama petinggi korps adhyaksa. Rentetan penggeledahan di kafe milik Ferry di Cipete serta penemuan brankas rahasia berisi 74 kilogram emas di Sentul kini menjadi bukti nyata bagaimana sepak terjang sang pengusaha sukses mengonfrontasi dua institusi hukum terbesar di Indonesia hingga memaksa Jampidsus Febrie Adriansyah meletakkan jabatannya.
Sumber Berita :
Tribunnews & Indonesia Police Watch (IPW)
#FerryHongkiriwang #KonflikPolriJaksa #MakelarKasus #KorupsiKejaksaan












