LINTAS NEWS, PONTIANAK – Lembaga pendidikan merupakan lembaga khusus dan berbeda dengan lembaga lainnya, oleh karena itu lembaga pendidikan membutuhkan seorang figur pemimpin yang khusus pula. Bukan hanya persoalan kompetensi, integritas dan kapasitas akan tetapi persoalan moralitas yang tinggi.
“Kepemimpinan seperti apa yang mampu menjalankan suatu lembaga pendidikan, mulai dari kepala dinas hingga, hingga wali kelas,” sampainya Dr. Herman Hofi Munawar selaku ketua Borneo Education Care Kalbar. Minggu, 30/6/2024
Secara umum kepemimpinan dapat dipahami sebagai pemimpin yang mampu mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Lembaga pendidikan adalah suatu wadah untuk membina manusia, membawa kearah masa depan yang lebih baik. Sedangkan kepemimpinan dalam lembaga pendidikan dapat disebut sebagai seseorang yang memegang otoritas yang menentukan perkembangan lembaga pendidikan.
“Setiap jenjang yang mengurus lembaga pendidikan mulai dari kepala dinas hingga wali kelas adalah seseorang yang bertanggung jawab atas segala kemajuan yang ada di lingkungan pendidikan,” tuturnya Dr. Herman Hofi.
BACA DISINI Tips Cara Membuat Malam Minggu Bersama Pasangan Menjadi Spesial
Syarat utamam seorang pemimpin yang berkaitan dengan pendidikan harus memiliki moralitas yang kuat sehingga figur itu akan menjadi contoh atau panutan dimasyarakat dan siswanya. Kepala dinas hingga wali kelas harus mampu berperilaku yang dapat dicontoh dalam kehidupan di masyarakat.
“Mempertontonkan kehidupan yang hedon bermewah mewah, apalagi kalau bersentuhan dengan hal-hal yang terkait perselingkuhan, di setiap aktifitasnya harus menjadi contoh.
Konsep pendidikan kita bukan hanya membangun kemampunan kognitif semata, akan tetapi membanguan moralitas, nilai-nilai relegius harus tertanam pada anak-anak,” terangnya
Akan tetapi apa yang terjadi hari ini. Kita hanya pandai menyalahkan anak nakal, anak tak bermoral, anak-anak hanya mencontoh apa yang dipertontonkan saat ini. Misalkan terjadi pelecehan seksual, Perselingkuhan, dan mempertontonkan kehidupan yang hedodis, tambahnya.
Jagat raya dihebohkan dengan perilaku anak-anak yang sudah jauh menyimpang dari norma dan etika. Jangan salahkan mereka dan jangan hukum mereka. Mereka hanya mencontoh perilaku kita, perilaku anak adalah cermin perlaku pendidikan kita.
“Ayo kita merenungi sembari mengevaluasi diri dan berperilaku di lembaga yang mengurus pendidikan mulai dari dinas hingga wali kelas,” ajaknya Herman Hofi.
BACA DISINI RSUD Soedarso Bantah Tudingan Video Pasien Keluhkan Pelayanan, Begini Kronologisnya!
Etika adalah perilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma-norma, dan hal-hal yang baik. Jadi dengan kata lain etika merupakan sebuah standar seseorang untuk berperilaku dalam sebuah lingkungan, dalam hal ini adalah lembaga pendidikan.
Seseorang yang melanggar suatu norma atau nilai moral yang dipercaya oleh masyarakat dapat juga dikatakan tidak beretika, tentu saja hal ini tidak baik untuk seseorang yang dijadikan teladan. Pemimpin yang baik haruslah pemimpin yang beretika, yang bermoral dan mematuhi norma-norma yang ada. Moralitas seorang pemimipin di dalam suatu organisasi sangatlah penting keberadaannya.
Kepemimpinan yang bermoral baik sangat dibutuhkan di setiap oraganisasi tak terkecuali pada organisasi pendidikan dalam arti sederhana pendidikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian yang sesuai dengan nilai moral. (Hadin)












