Terminal Kijing Mempawah Belum Berkontribusi Maksimal, Pengamat Minta di Audit dan Penataan Manajemen Pelindo

Foto. Dr. Herman Hofi Munawar, Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik Kalbar

MEMPAWAH – Pelabuhan Terminal Kijing Mempawah, Kalbar yang diresmikan Presiden RI Joko Widodo pada 9 Agustus 2022 harusnya sudah beroperasi secara maksimal mengingat sudah dua tahun sejak diresmikan. Hingga saat ini belum memberikan konstribusi dalam peningakatan perekonomian Kalimantan Barat.

“Belum ada tanda-tanda geliat aktifitas yang menunjukkan sebagai pelabuhan, katanya berstandar Internasional. Bahkan penaatan infrastruktur masih jauh “panggang dari api”. Hingga saat ini tidak ada konteinner yang masuk di terminal kijing,” ungkap Dr. Herman Hofi Munawar, Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik, Kalbar. Jumat, 23/8/2024

Terminal Kijing pada mulanya menjadi kebanggaan Kalbar dengan harapan akan memberikan konstribusi perekonimian, namun hingga saat ini dinilai belum ada tanda-tanda akan aktivitas, sebagaimana pelabuhan yang dibangun menggunakan uang negara dengan triliunan.

“Tidak sesuai antara cost yang dikeluarkan negara dengan kontribusi pelabuhan terhadap perekonomian yang sangat memalukan pelabuhan yang dibangunan dengan dana besar fasilitas penunjang utama seperti crane belum ada. Informasinya banyak fasilitas yang di sewa dari pihak ketiga, tentu hal ini akan meningkatkan cost bongkar muat” sampainya Herman Hofi

Selain itu, fasilitas yang minimalis tentu akan berdampak pada waktu atau lamanya kapal bersandar di pelabuhan. Biayanya juga akan jauh lebih mahal karena tidak efisien, namun hal ini tidak menjadi perhatian management palindo. Dampak dari mahalnya ongkos bongkar muat, tentu akan berpengaruh pada minat perusahaan untuk memanfaatkan pelabuhan tersebut sebagai pintu ekspor.

Adanya pelabuhan Kijing berharap pertumbuhan dunia usaha yang lebih baik, pertumbuhan ekokomi sektor informal pada masyarakat sekitar akan semakin baik dan menjadi pemicu pertimbuhan ekonomi. Namun seharusnya pelabuhan tersebut sudah bisa beroperasi secara maksimal sebagaimana layaknya sebagai sebuah pelahuhan yang dibangun triliunan dan sudah cukup lama sejak diresmikan.

Satu hal lagi yang menyedihkan pelabuhan tersebut memiliki tempat penumpukan dengan kapasitas sampai 500 ribu twenty foot equivalent units (TEUs), dan delapan juta non-petikemas, akan tapi saat ini lapangan tempat penumpukan tidak ubahnya seperti lapangan bola kosong melompong, artinya aktivitas pelabuhan lemah.

Pertanyaannya apa yang dilakukan Pelindo di Pelabuhan Kijing ini?.

Pihak yang berwenang sudah saatnya melakukan audit terhadap aset-aset dan cost yang ada di pelabuhan serta melakukan oudit kinerja management palindo ini. Hal ini menjadi penting sebelum negara di rugikan lebih besar lagi dan sangat merugikan daerah. Maka sangat penting sekali untuk dilakukan audit terhadap fasilitas serta audit kinerja management pelabuhan.

“Persoalan pelabuhan kijing ini guna perbaikan performa pelabuhan dan ini adalah persoalan yang sangat serius maka sebagai warga kalbar berharap segera dibenahi dengan management yang baik. Pelabuhan ini harusnya memahami pontensi Kalbar yang memiliki potensi eksport,” terangnya.

Dengan demikian pelabuhan sudah menyiapkan sarana untuk mendorong eksport dari kalbar yang mempunyai potensi sawit yang luar biasa seharusnya telah tersedia tangki timbun CPO untuk ekspor dan fasilitas lainnya untuk menunjang komunditas eksport.

Management pengelolaan pelabuhan masih banyak hal yang perlu penataan, terutama persoalan PBM  masih perlu di benahi. Sedangkan semangat untuk melakukan monopoli oleh anak perusahan Pelindo semakin menjadi. Kita berharap tidak  terjadi monopoli dalam aktivitas bisnis di Pelabuhan Kijing.

“Management pelabuhan harus bisa menciptakan ekosistem atau iklim usaha yang kondusif harus menjadi sebagai warga Kalbar, kita sangat berharap optomalisasi fungsi Pelabuhan segera di wujudkan,” harapnya Dr. Herman Hofi Munawar