Di Bawah Tegang, Di Atas Riang

Gambar Istimewa

PONTIANAK – Budak ni kalau cerite yang tegang-tegang, malar ade jak dikirim ke saye. Kali ini dikirim foto dan berita ke-riang-an Maman Abdurahman dengan Ria Norsan. Foto bareng lagi. Cobe, ape maksod, wak?

Ente pasti tahu ke mana arahnya foto Norsan dan Maman yang sekarang bertebaran. Saya coba maknai dengan gaya ulasan sedikit agak tinggi ya.

Begini, wak. Politikus dan drama, seperti kopi dengan gula. Tidak lengkap tanpa sedikit kelebihan rasa. Dari sudut pandang filsafat, hubungan antara Norsan dan Maman ini sebenarnya bisa diibaratkan sebagai dialektika Hegelian. Ada tesis dan antitesis yang akhirnya menghasilkan sintesis yang bikin kita semua geleng-geleng kepala. Tapi, ini bukan tesisnya Kiyai Imad ya…!

Tesisnya adalah, “Gara-gara anak mecat ayah, hancurlah persahabatan ini!” Lalu muncullah antitesis, “Ah, mereka pasti sedang berseteru seperti dua raksasa yang saling bertarung di pentas politik.” Ternyata, sintesis yang muncul justru: “Wah, mereka selfie bareng, mesra banget!” Perseteruan yang diharapkan netizen ala film aksi Rusia vs Ukraina berubah menjadi drama komedi romantis lokal.

Namun, kalau kita telaah lebih jauh dari perspektif Nietzsche, ini adalah permainan kekuasaan yang diulang-ulang. Semua ‘pertarungan’ politik ini hanyalah wujud dari ‘will to power’, kehendak untuk berkuasa. Siapa sih yang tidak ingin berkuasa, bukan?

Norsab dan Maman yang sama-sama dibesarkan Pohon Beringin, di sini seperti para aktor di atas panggung teater Aristoteles. Ada yang memainkan peran antagonis. Ada yang menjadi protagonis. Tapi, di balik panggung mereka mungkin saling berbagi kopi dan kerupuk basah. Aristoteles pernah bilang, manusia adalah zoon politikon, makhluk politik, dan ini jelas terlihat. Saat kamera menyala, mereka siap berantem. Tapi begitu lampu padam, eh, jadi bestie lagi!

Tentu saja, media sosial kita tak bisa ketinggalan memainkan peran seperti Plato yang menciptakan bayangan di dinding gua. Netizen yang gemar menggoreng isu ini seperti bayangan-bayangan di gua Plato. Mereka melihat refleksi, bukan realitas. Ironisnya, bayangan itu justru yang dipercaya publik.

Kalau ditanya, apakah perseteruan Norsan dan Maman ini nyata? Seperti yang Nietzsche katakan, “There are no facts, only interpretations.” Bagi netizen, perseteruan ini bisa jadi fakta. Tapi bagi Norsan dan Maman? Ah, mungkin cuma skrip episode selanjutnya dalam sinetron politik Kalbar.

Penulis : Rosadi Jamani