LINTAS NEWS – Tidur pun tak nyenyak tadi malam. Efek Timnas disikat tanpa ampun oleh Jepang. Siapa yang tersenyum di balik kekalahan ini?
Usai jogging di Jalan Ayani 1, yok kita kupas laga paling menyedihkan ini.
Gemuruh Gelora Bung Karno lenyap ditelan keheningan. 90 menit di lapangan, dan papan skor berbicara, 4-0. Bukan untuk Garuda, tapi untuk Samurai Biru. Empat gol telak, satu sumbangan cinta Justin Hubner ke gawang sendiri. Ini sebuah drama yang membuat Shakespeare angkat topi. Tepuk tangan bagi Minamino, Morita, dan Sugawara, penutup epik tragedi ini.
Bung Towel pasti tertawa. Tetangga sebelah juga senang. Entah kenapa, di pojokan layar Twitter, tagar #STYOut sudah menggeliat seperti ular lapar. Oh, Shin Tae-yong, sang arsitek mimpi buruk, di sesi post-match preskon, mencoba mengurai petaka. “Peluang emas Ragnar Oratmangoen… satu lawan satu… seperti sebutir berlian yang jatuh ke selokan.”
Ragnar, oh Ragnar! Jika sepak bola adalah puisi, maka kau adalah metafora yang tidak selesai. Bayangkan, satu lawan satu dengan Zion Suzuki, dan bola berakhir… di manapun kecuali di gawang. Di saat itu, para fans Indonesia serasa menonton film horor di bioskop tanpa tiket pulang.
“Mungkin kalau gol itu masuk, sejarah berubah,” kata STY dengan nada setengah puisi setengah doa. Hasilnya? Tetap papan klasemen, Indonesia tergeletak di dasar Grup C, seperti daun kering di trotoar. Jepang, tentu, makin kokoh di puncak, melangkah dengan bangga seperti samurai yang baru saja menghunuskan katana ke angin.
Selanjutnya? Arab Saudi di depan mata. Laga ini mungkin bisa dijadikan tontonan wajib bagi pecinta tragedi Shakespeare modern. STY berjanji akan “evaluasi,” kata yang kini terdengar lebih klise dari pada janji politisi jelang Pilkada serentak.
Rakyat? Terpecah. Ada yang mencaci, ada yang pasrah, dan sisanya memesan tiket untuk laga berikutnya. Lalu, berharap keajaiban yang jarang mampir kecuali di film. Timnas, tetaplah berjuang, dan kita, penonton setia, akan selalu di sini, antara percaya dan tidak percaya, antara tertawa dan menitikkan air mata.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar










