Rame Video Tarik Dukungan

LINTAS NEWS – Sebuah video muncul di beranda saya. Ada kelompok orang, sekitar belasan, lalu menyatakan menarik dukungan pada salah satu kandidat Gubernur Kalbar (tak perlu disebutlah ya wak). Usai menyatakan menarik dukungan, lalu melepas baju kaus bergambar pasangan calon. Tandanya, mereka tak mau lagi milih dan mengkampanyekan kandidat itu. Justru akan mengalihkan dukungan ke kandidat lain.

Video macam itu, tidak hanya satu, ada video lain serupa lagi. Menarik ya, wak! Jelang pencoblosan 27 November, eh ada yang tarik dukungan secara resmi, divideokan lagi. Entah apa maksudnya? Sambil ngopi di Jalan Sungai Raya Dalam, yok kita bedah kelompok “agak laen” ini.

Pilkada Kalbar semakin panas. Maklum saja, pukulan terakhir. Bukan sekadar kompetisi politik, ini sudah seperti opera tragis Yunani. Ada pengkhianatan, ada godaan, ada janji-janji yang tak pernah jadi nyata. Tim sukses, bak prajurit di garis depan, berkeringat habis-habisan. Konsolidasi diadakan siang malam, sambil berharap suara tetap solid. Tapi politik, oh politik, selalu punya cara menyelipkan tikaman tak terduga.

Tiba-tiba, datanglah kabar yang mengguncang panggung. Kelompok pendukung salah satu kandidat menarik dukungan. Tidak sekadar menarik, mereka bahkan melimpahkan dukungan pada lawan. Seolah-olah perjuangan selama ini hanya sekadar catatan kaki yang bisa dihapus begitu saja. Angin politik berganti arah, tetapi bukan tanpa sebab.

Spekulasi membanjir. Mulai dari suara lirih tentang “dana tak cair” hingga teriakan keras soal “kurang perhatian.” Semua mengarah ke satu simpulan pahit, politik kita lebih dekat ke pasar malam. Yang termahal menang. Nilai kandidat tak lagi dihitung dari visi, tetapi dari isi amplop. Amplop tebal, dukungan mengalir. Amplop tipis, tinggal salam perpisahan.

Pendukung sejati? Ah, istilah itu sudah seperti dongeng para filsuf tua. Di tengah hiruk-pikuk ini, ada yang berteriak lantang, “Mana loyalitas kalian?” Lucu, sebab loyalitas dalam politik lebih rapuh dari pada janji-janji kampanye itu sendiri. Hari ini sumpah setia, besok pindah ke lain hati, tergantung siapa yang menawarkan lebih besar. Kalau ada yang menyebut mereka oportunis, ya, memang itulah seni politik. Apa lagi yang diharapkan?

Namun, ini bukan sekadar soal uang. Ada yang berbisik, ini konspirasi. Sebuah rencana licik untuk menggembosi kandidat di saat-saat terakhir. Membuat suara pecah, strategi ambruk, dan kemenangan berpindah ke tangan lawan. Konspirasi, tentu saja, adalah bumbu favorit dalam setiap Pilkada. Bahkan jika faktanya jauh lebih sederhana, uang.

Bayangkan drama ini dengan lebih dramatis lagi. Seorang loyalis berdiri di tengah malam, memegang bendera kandidatnya, memandang jauh ke langit sambil menangis, “Kami berjuang bukan untuk ini!” Di sisi lain, pendukung yang membelot duduk di ruangan ber-AC, menghitung lembaran uang baru dengan senyum kecil. Mereka berkata pelan, “Kami realistis, bukan pengkhianat.”

Tapi ironi terbesar ada pada rakyat. Mereka yang suaranya diburu dengan penuh hasrat, justru menjadi penonton pasif. Sambil mengelus dagu, mereka menyaksikan politisi berdansa di atas panggung uang dan janji. “Untuk siapa sebenarnya semua ini?” gumam mereka. Pertanyaan itu menghilang, tenggelam dalam gemuruh orasi dan tepuk tangan palsu.

Pilkada Kalbar tahun ini bukan sekadar pemilihan. Ia adalah panggung tragedi, di mana tokoh-tokohnya lupa bahwa yang mereka perebutkan bukan sekadar kursi, melainkan masa depan sebuah daerah. Tapi siapa peduli masa depan? Hari ini adalah tentang menang.

Begitulah, wak! Selamat datang di Pilkada Kalbar. Tiket drama terbaik tahun ini sudah terjual habis. Jangan kaget jika aktor utamanya berubah di babak terakhir. Di panggung ini, semua mungkin, kecuali satu hal, kejujuran.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar