lintasnews, Sorotan Peristiwa – Pekanbaru Kembali Diselimuti Asap Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau yang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian, kembali menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Sejak Senin, 5 Oktober 2026, sejumlah kawasan, seperti Panam, Jalan Tuanku Tambusai, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Sembilang, dilaporkan diselimuti asap pekat.
Kondisi ini tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, sehingga warga yang beraktivitas di luar rumah perlu menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Bukan Masalah Sehari atau Dua Hari
Persoalan kabut asap di Pekanbaru bukan baru terjadi pada awal Oktober.
Paparan asap telah dirasakan masyarakat sejak sekitar akhir Agustus dan kembali memburuk dalam beberapa kesempatan.
Hingga 6 Oktober 2026, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat 10.225 warga telah mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan kabut asap.
Jumlah tersebut terus bertambah seiring memburuknya kualitas udara.
Pada 7 Oktober, pemerintah kota menyebut lebih dari 10.000 warga telah mengalami berbagai gangguan kesehatan, mulai dari ISPA, asma, pneumonia, hingga iritasi mata dan kulit. Pada hari yang sama, terdapat 374 pasien yang membutuhkan perawatan medis akibat dampak asap.
Kondisi udara juga sempat mencapai kategori berbahaya. Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan kualitas udara pada 7 Oktober berada dalam kondisi sangat tidak sehat dan pada pukul 13.00 WIB sempat masuk kategori berbahaya.
ISPA Menjadi Keluhan Terbanyak
Dampak kabut asap paling banyak terlihat dari meningkatnya gangguan saluran pernapasan.
Pada periode 24 Agustus hingga 21 September 2026, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat 6.622 warga mengalami gangguan kesehatan, dengan 5.820 kasus ISPA. Selain ISPA, terdapat pula kasus asma dan pneumonia.
Memasuki awal Oktober, jumlah warga yang terdampak terus meningkat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan asap yang berlangsung dalam waktu lama bukan hanya membuat masyarakat merasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang sudah memiliki gangguan pernapasan.
Keluhan kesehatan juga datang langsung dari masyarakat. Rani, salah seorang warga Pekanbaru, mengatakan kondisi anaknya mulai menurun ketika kabut asap semakin parah.
“Awalnya anak saya mengeluh gak enak badan, lalu muncul batuk-batuk, karena kabut asap semakin parah di Pekanbaru,” katanya pada 7 Oktober. Warga lainnya, Elvi, juga mengatakan anaknya sudah mengalami demam selama dua hari.
Warga Mulai Merasa Lelah
Keluhan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan gangguan kesehatan, tetapi juga rasa lelah karena persoalan kabut asap terus berulang.
Pada 6 Oktober, seorang pengendara bernama Wahidun mengaku mengalami sesak napas ketika kabut asap kembali pekat.
“Kabut asapnya pekat lagi ini, sesak napas,” Ujar Wahidun kepada detikSumut. Warga lain yang ditemui dalam kondisi tersebut bahkan mengaku sudah merasa lelah karena persoalan asap terus terjadi.
“Sudah biasa, capek kita tidak ada langkah nyata dari pemerintah. Bolak-balik berasap, sudah macam ikan salai kita ini,”Katanya.
Keluhan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan kesehatan, tetapi juga ketidaknyamanan karena harus berulang kali menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara.
Anak-anak kembali belajar dari rumah, masyarakat harus menggunakan masker ketika keluar, dan warga dengan gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Dampaknya bahkan merambah ke transportasi.
Pada 7 Oktober, dua pesawat dari Jakarta menuju Pekanbaru gagal mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II karena jarak pandang hanya sekitar 600 meter. Satu penerbangan kembali ke Jakarta, sedangkan penerbangan lainnya dialihkan ke Batam.
Pemerintah Memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh
Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD hingga SMP dan memperpanjang kebijakan tersebut hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, setelah kualitas udara kembali memburuk.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar menjelaskan,
“Kondisi udara kita di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat.
Dan tadi pukul 13.00 WIB itu sampai ke posisi berbahaya,”Ujarnya.
Pemerintah juga memperkuat pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan rumah sakit serta mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker.
Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi dampak paparan asap, tetapi upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan tetap perlu diperkuat agar kabut asap tidak terus berulang.
Ketika Masyarakat Terus Menjadi Pihak yang Beradaptasi
Penanganan kabut asap seharusnya tidak hanya berfokus pada pengobatan masyarakat yang terdampak, tetapi juga pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebagai sumber masalah.
Keluhan warga yang merasa persoalan asap terus berulang menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar pembagian masker dan pengobatan setelah jatuh sakit.
Dampak kabut asap telah mengganggu kehidupan sehari-hari, mulai dari anak-anak yang harus belajar dari rumah, warga yang mengalami sesak napas, meningkatnya kasus ISPA, hingga terganggunya penerbangan.
Kondisi ini menuntut pemerintah untuk memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus melakukan pencegahan jangka panjang agar kebakaran tidak terus berulang dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman.
Pekanbaru Perlu Kembali Bernapas dengan Aman
Kabut asap yang kembali menyelimuti Pekanbaru menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan masih memberikan dampak serius bagi masyarakat.
Hingga 6 Oktober 2026, sebanyak 10.225 warga tercatat mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, sementara pada 7 Oktober terdapat 374 pasien yang membutuhkan perawatan terkait dampak asap, dengan ISPA sebagai salah satu keluhan terbanyak.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari memperpanjang pembelajaran jarak jauh hingga memperkuat pelayanan kesehatan.
Namun, penanganan kabut asap seharusnya tidak hanya berfokus pada pengobatan dan perlindungan masyarakat, tetapi juga pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Masyarakat Pekanbaru berhak mendapatkan udara yang aman tanpa harus terus membatasi aktivitas setiap kali kabut asap datang.
Keberhasilan penanganan masalah ini tidak hanya dilihat dari banyaknya pasien yang tertangani, tetapi juga dari kemampuan pemerintah mencegah semakin banyak warga mengalami gangguan kesehatan akibat pencemaran udara. (Red)












