lintasnews, Nasional – Ironi itu kembali dipertontonkan. Indonesia, negara yang kaya akan sumber daya alam dan dikenal sebagai salah satu penghasil energi, justru masih dihadapkan pada persoalan klasik: kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). (28-07-26).
Di berbagai daerah, masyarakat harus mengantre sejak pagi. Lebih memprihatinkan lagi, pembelian BBM dibatasi hanya dua liter per orang dalam satu kali transaksi.
Aparat kepolisian pun diterjunkan untuk mengamankan situasi agar antrean tetap tertib. Pemandangan seperti ini menimbulkan pertanyaan yang wajar di benak publik: mengapa kebutuhan yang begitu mendasar masih begitu sulit diperoleh ?
Bagi sebagian kalangan, dua liter mungkin terasa sepele. Namun, bagi pengemudi ojek, nelayan, petani, buruh, hingga pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan pada kendaraan, pembatasan tersebut dapat berdampak langsung pada aktivitas dan pendapatan mereka.
Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kebijakan. Masyarakat tidak membutuhkan janji yang terus diulang, melainkan kepastian bahwa distribusi BBM berjalan lancar, tepat sasaran, dan tidak membuat rakyat menjadi korban dari persoalan yang terus berulang.
Rakyat berhak bertanya, pemerintah berkewajiban menjawab. Sebab ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya tercermin dalam laporan dan angka di atas kertas, tetapi juga dari apakah masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa harus mengantre berjam-jam atau pulang dengan tangan hampa.
Di negeri yang kaya, memperoleh BBM semestinya bukan menjadi perjuangan, melainkan sebuah kepastian. (Red)












