lintasnews, Internasional – Penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari Irak pada 30 September 2026 menjadi babak baru dalam peta keamanan Timur Tengah. Namun, narasi yang menyebut “Iran menguasai keamanan pasukan AS yang hengkang dari Irak” atau seolah-olah Irak kini berada di bawah kendali Iran perlu dibedakan dari fakta di lapangan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan dan peralatan AS telah menyelesaikan keberangkatan dari Erbil Air Base, menandai berakhirnya misi Operation Inherent Resolve di Irak. Misi tersebut berlangsung sejak 2014 untuk membantu memerangi ISIS.
Penarikan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan Amerika Serikat dan pemerintah Irak yang telah disusun sebelumnya. Setelah pasukan koalisi keluar, tanggung jawab utama keamanan Irak beralih kepada pemerintah dan pasukan keamanan Irak, bukan kepada Iran.
Iran Diuntungkan Secara Strategis
Meski demikian, keluarnya pasukan AS memang mengubah keseimbangan kekuatan di Irak.
Reuters melaporkan bahwa Iran dan kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran menyambut penarikan tersebut sebagai sebuah kemenangan. Sejumlah analis keamanan Irak juga menilai berkurangnya kehadiran militer AS dapat memperbesar ruang pengaruh Iran dan kelompok sekutunya dalam politik serta keamanan Irak.
Tetapi, “Iran mendapat keuntungan strategis” tidak sama dengan “Iran mengambil alih keamanan Irak.”
Pemerintah Irak tetap menjadi pihak yang secara resmi bertanggung jawab atas keamanan negaranya. Amerika Serikat juga menyatakan dukungan berupa kerja sama pertahanan, termasuk pelatihan dan bantuan intelijen kepada mitra Irak, sementara misi antiterorisme AS terhadap ISIS tetap berlanjut dari kawasan lain, terutama melalui basis di Yordania.
Ancaman ISIS dan Milisi Masih Jadi Persoalan
Berakhirnya kehadiran militer AS di Irak juga tidak berarti seluruh ancaman keamanan otomatis berakhir.
Pemerintah Irak masih menghadapi persoalan keberadaan sisa-sisa ISIS serta kelompok milisi yang memiliki hubungan dengan Iran. Pentagon menyatakan tantangan tersebut kini terutama menjadi tanggung jawab pemerintah Irak.
Sejumlah analis yang dikutip Reuters juga memperingatkan bahwa perubahan konfigurasi keamanan tersebut dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran, sekaligus menciptakan kekhawatiran mengenai kemungkinan kebangkitan kembali jaringan ISIS.
Bukan “Irak Dikuasai Iran”
Dengan demikian, informasi pada gambar yang beredar di media sosial perlu dibaca secara hati-hati.
Faktanya: AS telah menyelesaikan penarikan militernya dari Irak dan meninggalkan basis terakhirnya di Erbil.
Faktanya juga: Iran dan kelompok yang berafiliasi dengannya menyambut penarikan tersebut dan secara strategis dapat memperoleh ruang pengaruh yang lebih besar.
Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa Iran telah mengambil alih atau menguasai keamanan Irak. Struktur keamanan resmi tetap berada di bawah pemerintah Irak dan aparat keamanan negara tersebut.
Perubahan ini justru membuka pertanyaan besar: sejauh mana pemerintah Irak mampu menjaga keseimbangan antara kedaulatan negara, ancaman ISIS, keberadaan kelompok bersenjata, dan meningkatnya pengaruh Iran setelah berakhirnya misi militer AS ?
LINTAS NEWS mencatat, penarikan AS dari Irak bukan sekadar persoalan pasukan yang pulang. Ini merupakan perubahan penting dalam konfigurasi keamanan Timur Tengah yang dampaknya masih akan berkembang. (Red)












