lintasnews, Sumbar – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyampaikan rencana reaktivasi jalur kereta api di Sumatera Barat melalui akun Instagram pribadinya, sebagaimana diberitakan ANTARA Sumbar (2026) dan Harian Singgalang (2026).
Menurut Andre, reaktivasi dijadwalkan mulai 27 Oktober 2026, dengan tahap awal jalur Kayu Tanam-Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer.
Andre juga mengaitkan rencana ini dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Sumatera Barat. (25-10-26).
(kumparanNEWS, 2026).
Jalur kereta api yang melintasi Lembah Anai dibangun sejak masa pemerintahan kolonial Belanda.
Jalur ini selesai dibangun pada tahun 1891, pada masa itu jalur ini digunakan untuk mengangkut batu bara dari Ombilin, Sawahlunto menuju pelabuhan Teluk Bayur di Padang. (Good News from Indonesia, 2022).
Jalur kereta api Kayu Tanam-Padang Panjang pernah berhenti beroperasi pada 2003, setelah pengangkutan batu bara dari tambang Ombilin, Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur dihentikan.
PT KAI sempat mengupayakan kereta wisata pada 2006 dan 2009 (Kompas, 2015, namun gempa bumi pada tahun 2009 menyebabkan kerusakan jalur di kawasan Lembah Anai.
Menurut PT KAI Divre II Sumatera Barat, tiang jembatan tinggi di Lembah Anai mengalami kemiringan setelah gempa pada tahun 2009 dan perbaikannya memerlukan biaya besar, serta lokomotif bergigi BB204 buata Swiss yang dibutuhkan untuk tanjakan ekstrem seperti di jalur Kayu Tanam-Padang Panjang ini sulit digantikan dengan lokomotif lain, karena pabriknya sudah tidak berproduksi (ANTARA Sumbar, 2023).
Rencana reaktivasi ini patut disambut baik, karena proyek ini dapat mendongkrak pertumbuhan dan memenuhi kebutuhan ekonomi-politik masyarakat Sumatera Barat.
Tulisan ini membahas manfaat ekonomi dan politik dari proyek tersebut.
Hal yang pertama adalah nilai ekonomi jalur kereta tidak ditentukan oleh panjangnya, tetapi oleh wilayah yang dihubungkannya.
KA Lembah Anai saat ini melayani rute dari Kayu Tanam menuju Kota Padang (RRI, 2026).
Jika jalur Kayu Tanam-Padang Panjang kembali beroperasi, maka Kota Padang Panjang yang berada di dataran tinggi akan terhubung dengan Kota Padang melalui satu jalur kereta, sehingga jumlah daerah yang dapat dijangkau penumpang menjadi lebih banyak.
Andre juga menyatakan bahwa reaktivasi diharapkan memudahkan mobilitas masyarakat, mendukung pariwisata, dan memperlancar distribusi barang (ANTARA Sumbar, 2026).
Kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta api sudah terbukti.
Menurut data KAI, jumlah penumpang KA Lembah Anai pada Januari sampai Mei 2026 mencapai 130.504 orang, atau naik 206,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (RRI, 2026).
KAI menyebutkan bahwa penumpang menggunakan jasa kereta ini untuk transportasi bekerja, bersekolah, berdagang, berwisata, dan mengakses layanan publik (RRI, 2026).
Dari sisi ekonomi, reaktivasi jalur kereta dapat membuka kesempatan kerja, mulai dari pekerjaan konstruksi, perawatan jalur, usaha kecil di sekitar stasiun, serta fungsi kereta api untuk mengangkut barang, terutama dari Kota Padang Panjang menuju Kota Padang dan sebaliknya.
Proyek reaktivasi jalur kereta api Kayu Tanam-Padang Panjang ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dan membantu masyarakat dalam mendistrubusikan dan menjual barang dagangannya dengan harga yang lebih baik serta dengan ongkos yang lebih murah.
Jalur Kayu Tanam-Padang Panjang juga memiliki potensi pariwisata.
Lembah Anai dikenal dengan pemandangan alamnya, dan jalur kereta peninggalan abad ke-19 menambah nilai sejarahnya (Good News from Indonesia, 2022).
Sejumlah kawasan wisata, seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Kota Sawahlunto, dan Kota Padang Panjang, disebut dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api (Good News from Indonesia, 2026).
Kajian strategis KAI untuk Sumatera Barat juga memetakan rencana pengembangan jalur lain, yaitu Padang Panjang-Singkarak dan Solok-Sawahlunto, sehingga total rencana reaktivasi bersih mencapai sekitar 81,7 kilometer (kumparanNEWS, 2026).
Proyek reaktivasi ini juga berkaitan dengan ketahanan sistem transportasi.
Sumatera Barat merupakan daerah yang rawan bencana, jika akses jalan angkutan hanya bergantung pada jalan raya, gangguan pada satu titik jalan dapat menghambat mobilisasi orang dan barang yang akan berdampak kepada siklus perekonomian masyarakat, misalnya jalan di Silaiang yang rawanakan longsor dan banjir bandang.
Oleh karena itu, jalur kereta api dapat menjadi alternatif angkutan, sepanjang jalurnya dirancang dengan baik dan dirawat secara teratur.
Selain itu, Andre Rosiade juga menyebutkan bahwa pembangunan flyover Sitinjau Lauik, jalan tol, dan jalan lingkar Bukittinggi juga menjadi perhatian (kumparanNEWS, 2026).
Dari sisi politik pembangunan, proyek reaktivasi ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, badan usaha milik negara, pemerintah daerah, dan wakil rakyat.
Groundbreaking (acara seremoni dimulainya proyek) dijadwalkan dihadiri Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono, dan Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro, bersama anggota DPR dari daerah pemilihan Sumatera Barat (kumparanNEWS, 2026).
Andre juga berharap koordinasi antara kementerian, BUMN, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat (kumparanNEWS, 2026).
Proyek ini juga dirancang secara bertahap. Tahap persiapan mencakup finalisasi rencana dan kajian teknis (ANTARA Sumbar, 2026), dan pelaksanaan setiap segmen tetap mengikuti tahapan serta keputusan resmi pemerintah dan pihak terkait (kumparanNEWS, 2026).
Pengoperasian jalur ditargetkan setelah pembangunan tahap awal selesai (ANTARA Sumbar, 2026).
Reaktivasi jalur Kayu Tanam-Padang Panjang merupakan langkah yang positif bagi pembangunan ekonomi dan politik di Sumatera Barat.
Proyek ini menyambung layanan kereta yang sudah mejadi kebutuhan masyarakat, mempermudah distribusi hasil bumi dan membuka peluang pariwisata, serta menambah pilihan angkutan di daerah rawan bencana.
Keberhasilannya tidak hanya diukur dari dimulainya pembangunan pada 27 Oktober 2026, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat setelah kereta beroperasi.
Dengan kerja sama semua pihak, jalur yang pernah berperan penting pada masa lalu ini diharapkan dapat kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
*Rahmat Zacky, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas












