lintasnews, Kalbar – Puluhan nelayan menggelar aksi damai di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Kabupaten Kubu Raya, Rabu (1/7/2026). Mereka menyuarakan tuntutan agar distribusi bahan bakar minyak (BBM) solar untuk kapal nelayan dapat dilakukan tepat waktu karena keterlambatan yang terjadi selama kurang lebih dua tahun terakhir dinilai sangat merugikan aktivitas melaut.
Aksi berlangsung tertib dengan membawa sejumlah spanduk berisi tuntutan kepada pihak penyalur BBM agar mempercepat dan mempermudah distribusi solar bagi nelayan.
Salah seorang nahkoda kapal, Rabuan, mengatakan tuntutan para nelayan sangat sederhana, yakni meminta pihak AKR maupun SPBN mempercepat penyaluran BBM solar. Menurutnya, keterlambatan distribusi berdampak langsung terhadap operasional kapal dan kesejahteraan nelayan.
“Kami hanya meminta penyaluran BBM solar dipercepat dan dipermudah. Keterlambatan ini membuat keberangkatan kapal tertunda, ABK harus menunggu lama hingga merasa jenuh, bahkan ada yang memilih meninggalkan kapal dan tidak ingin melaut lagi. Tuntutan kami tidak berat, hanya demi keberlangsungan usaha dan kesejahteraan masyarakat nelayan Kalimantan Barat,” ujarnya.
Rabuan menjelaskan, waktu tunggu distribusi solar paling cepat mencapai sekitar 10 hari. Namun dalam banyak kasus, nelayan harus menunggu lebih dari setengah bulan, bahkan hampir satu bulan sebelum memperoleh pasokan BBM.
Hal senada disampaikan Hary, pengurus kapal. Ia menyebut persoalan keterlambatan distribusi solar telah berlangsung selama dua tahun terakhir dan berdampak terhadap hasil tangkapan serta operasional kapal.
Menurutnya, dari sisi administrasi tidak ada kendala karena proses rekomendasi dari pihak pelabuhan telah berjalan dengan baik. Namun hingga kini nelayan belum mengetahui penyebab utama keterlambatan distribusi di tingkat penyalur.
“Dulu pasokan ke SPBN AKR bisa mencapai dua hingga tiga mobil tangki dalam sehari. Sekarang paling banyak hanya satu mobil tangki per hari, bahkan dalam satu minggu jumlah pengirimannya jauh berkurang. Akibatnya kapal yang mengantre untuk mendapatkan solar semakin banyak,” katanya.
Hary berharap pihak AKR, SPBN maupun penyalur BBM lainnya dapat lebih memperhatikan kebutuhan nelayan agar distribusi solar kembali normal sehingga aktivitas melaut tidak lagi terganggu.
Ia juga mengingatkan, apabila tuntutan tersebut tidak mendapat tanggapan dari pihak terkait, para nelayan tidak menutup kemungkinan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar sebagai bentuk penyampaian aspirasi.
“Kami tetap berharap ada solusi. Namun jika aspirasi ini tidak direspons, kemungkinan akan ada aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar,” tegasnya.
(Rn)












